Beruntung,Beruang,Berprestasi
Oleh : Muchlis Fattahillah
Kehidupan manusia di dunia merupakan titik awal dalam memulai sebuah proses, Ada yang berhasil melewati segala proses dan rintangan, ada yang gagal, ada pula yang berhenti dan menyerah sebelum ia mencapai titik klimaks. Padahal, ketika kita berbicara mengenai “Proses”, Kata gagal ini tak mungkin bisa dikesampingkan. Dengan gagal ini kita mampu untuk belajar, dengan gagal ini kita bisa mengukur seberapa level Potensi dalam diri, dan dengan kegagalan ini, akan memacu otak kita untuk kembali berfikir lebih keras lagi.
Namun, apakah penerapan dalam kehidupan kita sehari-hari, semudah apa yang saya paparkan tadi? Jawabannya jelas tidak sama sekali, Tingkat kegagalan antara satu individu dengan individu lain berbeda beda, tidak hanya sampai disitu, berlanjut ke cara menyikapi permasalahan juga tak bisa dipukul rata. Memang benar,bahwa ketika kita mendapati suatu kesusahan, yang harus kita hubungi pertama kali ialah yang maha menyelesaikan masalah. namun, seberapa sering kita menghubungi nya? Ataukan seberapa sungguhkah kita memohon kepada-Nya? Inilah pertanyaan yang harus benar-benar kita tanyakan pada diri kita masing masing, sebelum membahas beberapa hal yang sesuai dengan judul tulisan ini.
Pertama,
Mari,kita renungan firman Allah SWT berikut :
“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar”. (Q.S. Al-Baqarah: 155)
Cukup jelas bukan, bagaimana cara Allah SWT memberikan cobaan kepada kita.? Namun, kadang kita terlalu dini untuk mengambil sebuah kesimpulan, terlalu cepat berfikir negatif, baik itu negatif terhadap diri sendiri,orang lain, bahkan kepada Allah SWT , padahal sebuah kesabaran inilah yang menjadi sebuah kunci utama dimudahannya problematika dalam hidup. Yang harus di garis bawahi yakni, Sabar terlebih dahulu baru dimudahkan, bukan Sabar ketika semua telah dimudahkan. Termasuk sabar menunggu inti dari tulisan saya ini, Judulnya apa, yang dibahas apa? Kembali lagi, sabar terlebih dahulu, hayati dan resapi celotehan saya diatas, baru bertahap menuju kepada tema. Sekarang sadar bukan, bahwa sebenarnya seperti itulah manusia, yang selalu menginginkan hasil instan, tanpa mau untuk berproses. Jika hal ini yang dialami oleh kebanyakan orang, lalu seberapa dangkalkah tingkat kesabaran kita.? Bukan saya atau orang lain yang bisa menjawab, melainkan kepada apa kata hati masing-masing.
Lalu, apa sih gunanya kita membas tentang proses? Apa gunanya membahas soal sabar? Sebenarnya jawabannya sangat simple, yakni untuk bekal ketika ketika akan mewujudkan mimpi, maupun untuk bekal ketika kita telah berhasil menggapai mimpi.
Meskipun pada hakekatnya, manusia selalu merasa kurang terhadap apa yang telah mereka capai, hal ini akan berdampak positif, ketika mereka menerapkannya untuk kehidupan Akhirat, yakni selalu merasa kurang terhadap segala amalan yang telah dilakukan dan ingin terus beribadah demi mendapatkan tempat mulia di sisi-Nya. akan tetapi, justru akan berdampak negatif ketika segala usaha, segala upaya yang selalu dianggapnya kurang diarahkan pada kehidupan dunia. Masih bisa dibenarkan, ketika merea mengejar dunia dengan cara yang baik. akan tetapi, saat cara yang tak pantaspun dilakukan demi mendapatkan apa yang mereka impikan,maka sesiapapun yang membenarkan, saya berani menjamin bahwa kehidupannya di dunia tidak akan merasakan nikmat hidup, terlebih kepahitannya sesudah menjalani hidup.
Maka, mari sebelum datang kata terlambat, sebelum datangnya deadine penutupan pendaftaran ampunan, kita persiapkan sejak dini, konsisten terhadap apa yang telah kita
upayakan, menerapkan ilmu yang telah kita punya serta menyelesaikan segala sesuatu yang telah kita mulai.
Saatnya kita membahas ketiganya, yakni “Beruntung,Beruang,Berprestasi” Apa sih pengertiannya? lalu, apa hubungan antara ketiganya? Mari, satu persatu kita bahas dengan penuh kesabaran dan kita niatkan ber Tholabul ilmi, agar bernilai ibadah disisi Allah SWT
1. Pengertian
a.Beruntung
Keberuntungan berasal dari bahasa Perancis yang memiliki arti peluang dan dalam bahasa Persia disebut Bakht (nasib). Biasanya kata beruntung digunakan untuk dua arti, pertama sesuatu yang kebetulan dan terjadi tanpa sebab dan kedua memiliki arti nasib serta ketentuan Allah terlibat di dalamnya. Mengingat ragam dimensi masalah keberuntungan di antara ideologi dan perilaku masyarakat, harus dikatakan bahwa isu keberuntungan dari satu sisi adalah isu teologi dan filsafat dan dari sisi lain adalah isu budaya, psikologis, sosial dan perilaku. Sejatinya mereka yang mengatakan, “Saya beruntung” dan meyakini akan keberuntungan, memiliki ideologi filsafat, di mana gaya hidup mereka pun terpengaruh akan ideologi tersebut. Kebanyakan orang beranggapan bahwa sebuah keberuntungan terjadi karena kehendak “Sing Kuoso”. Meskipun, untuk mengenal siapa yang berkuasa kebanyakan enggan karena larut dalam kilau dunia. Keberuntungan juga bisa dikatakan bahwa terjadinya suatu hal tanpa adanya sebab yang melatarbelakangi suatu kejadian. Akan tetapi, menurut saya hal ini merupakan suatu perspektif yang salah,karena Allah SWT berfirman :
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya urusannya-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah ia”. (Qs. Yasin : 82)
Dari ayat ini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa, segala apapun yang terjadi pada suatu makhluk didunia ini, segala kebaikan, kebahagiaan, keburukan, maupun kesusahan. Segalanya telah diatur oleh Allah SWT. Maka, peran yang Maha Kuasa disini menjadi sebuah kunci daripada kejadian atau nasib yang dialami oleh seseorang. Ketika kita meyakini bahwa sutu hal yang terjadi bukan karena kehendak Allah SWT , maka inilah salah satu betuk benih dari sebuah kesyirikan yakni menganggap bahwa ada kekuatan yang bisa mendatangkan kebaikan selain dari Allah SWT . Padahal hal ini jelas sekali dilarang oleh Allah SWT dalam Al- Qur’an
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan mengampuni dosa lainnya yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa’: 116)
Naudzubillah Tsumma Na’uzubillah.
Kita sering mendengar bahwasanya dosa syirik ini tidaklah diampuni oleh Allah SWT kecuali memang benar-benar seseorang melakukan taubat dengan segala kesungguhannya atau biasa disebut dengan Taubatan Nasuha. Mungkin, ada yang bertanya-tanya “Katanya Allah itu Maha Pengampun?” Sekarang mari kita berfikir secara rasional, bukan berarti ingin mengkesampingkan dalil, Tapi apakah pantas kita sebagai seorang hamba yang kehidupan kita diberi kenyamanan oleh Allah SWT, saat kita selalu diberikan nafas secara gratis oleh-Nya, diberikan segala fasilitas yang ada di bumi,di laut,di udara,di langit dan masih terlalu banyak kenikmatan yng diberikan Allah tanpa ada seorangpun yang mampu menghitungnya. Akan tetapi, apa balasan kita padanya?? Lagi-lagi, tanyakan pada diri kita masing-masing. Seorang manusia saja, ketika ia tidak dihargai, pasti marah, membenci, bahkan menyimpan dendam hingga melakukan berbagai cara agar dendamnya bisa terbalaskan. Seorang yang telah mengenal cinta pasti juga akan merasakan kecemburuan apabila pasangannya lebih memprioritaskan orang lain dibandingkan kepadanya.
Begitu pula, Allah SWT ,ketika seorang hamba yang memiliki kewajiban untuk menyembah kepadanya, taat dan patuh kepadanya, akan tetapi ia mempercayai suatu hal akan memberikan manfaat atau mudzarat. Kita sebagai manusia haruslah mengingat hakekat penciptaan kita, dan hal ini telah jelas terpapar dalam QS. Adz-Dzaariyaat: 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
- "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu (saja)"(QS. Adz-Dzaariyaat: 56).
Beribadah secara murni hanya kepada Allah SWT men-Tauhidkan Allah SWT yakni percaya bahwa tiada daya upaya lain kecuali hanya miliknya. Setelah itu, sebagai pembuktian akan tauhid ini yakni dengan dibuktikan dengan Bertaqwa kepadanya ,menjalankan segala perintah serta menjuahi larangannya. Yakin bahwa segala sesuatu yang dilarang karena akan mendatangkan ke mudzratan dan segala yang diperintahkannya akan mendatangkan ribuan kemanfaatan baik untuk dirinya,keluarganya serta masyarakat muslim yang ada diseluruh dunia.
Sahabat, Semoga bermanfaat, dan tunggu kelanjutannya ya...

Posting Komentar