Hell Yeah Pointer 7

0

Suatu malam, seperti biasa ba'da isya kegiatan yang dilakukan santri adalah menghafal minimal 10 kosa kata bahasa inggris, kemudian dilanjutkan makan malam dengan jamuan seadanya yang sedari tadi telah dipersiapkan oleh bagian Rumahtangga. Seperti biasa pula, aku sebagai musyrif dan staf tata usaha yang kebetulan juga tinggal, dan mukim di tempat tersebut, memastikan semua santri makan terlebih dahulu sebelum kemudian aku yang makan.
tak ada masalah sama sekali perihal ini. setelah semua selesai makan, aku yang saat itu lumayan lapar, menyuruh mereka untuk belajar sebagai kewajiban mereka.
Semua sibuk dengan bukunya masing-masing, bahkan ada segelintir santri yang meminta izin untuk meminjam komputer guna keperluan tugas sekolah. Okelah aku izinkan, tentu dengan adanya pengawasan.
Tak lama kemudian, aku tinggal sejenak mereka demi kebutuhan perutku. Seperti kebanyakan orang makan, kuambil piring, nasi, lauk dan sendok. Nah, pada saat mengambil sendok inilah pokok permasalahan itu muncul. Bukan karena bentuknya, bukan karena warnanya,melainkan ada beberapa titik nasi yang masih menempel dipunggung sendok tersebut. Entah ini perasaanku pribadi atau memang dirasakan kebanyakan orang. Hal yang menjijikkan, pikirku. Namun, jika difikir secara mendalam, yang ada dipunggung sendok itu nasi, dan yang akan dimakan juga nasi. Bukankah seharusnya tidak menjadi masalah? ternyata jawabannya adalah tentang penempatan diri nasi tersebut.
Seperti halnya manusia, ada yang baik, ada yang buruk ada pula yang munafik. tapi bukankah mereka sama-sama manusia? bukankan kodrat mereka sama? waktu yang diperoleh juga sama? Mengapa derajatnya, cara pandang oranglain terhadapnya bisa berbeda? Hal itu dikarenakan bagaimana ia bisa memposisikan dirinya. Kita tak usah bicara bawasanya pandangan manusia itu relatif. Akan tetapi, ketika kita mampu dan bisa menempatkan diri sebaik baiknya, maka kita juga akan bisa diterima diberbagai kalangan. Bicara tentang penempatan diri, tak lengkap rasanya jika tidak membahas bagaimana penempatan diri kita sebagai hamba Allah. Yang masih percaya akan takhayul, apakah ia hamba Allah? Iya. yang masih melakukan amalan Bid'ah, Kurafat,Syirik apakah mereka hamba Allah? Iya. Yang kehidupannya penuh dengan maksiat apakah mereka hamba Allah? Iya. Yang rajin beribadah, menjadikan amalan sunnah menjadi wajib, dan menjadikan amalan wajib menjadi lebih tinggi tingkatannya, bersedekah dan menjalin tali silaturahmi dengan baik, apakah ia juga hamba Allah? jawabannya tak lain juga Iya. lalu mengapa mereka seakan berbeda? karena hanya sedikit orang yang sadar akan posisi mereka sebagai seorang hamba.
lalai terhadap hak dan kewajiban yang seharusnya ia lakukan, terlalu mencintai dunia seakan dunia adalah hal abadi yang harus dikejar dan melupakan apa yang jelas menjadi bekal ketika di kehidupan selanjutnya, kehidupan sebenarnnya yakni di Akhirat.
Maka, mari bersama-sama kita belajar untuk mengerti posisi kita, belajar untuk memahami bawasannya kita butuh Allah bukan Allah yang butuh kita. jangan terlena dengan tipu daya dunia. karena, banyak di alam kubur yang ingin sejenak dibangkitkan kembali ke dunia hanya berkeinginan memperbaiki sedekahnya, berdzikir dan melaksanakan shalat. Maksimalkan waktu khususnya generasi muda untuk hal-hal yang bermanfaat, sebab tidak akan bergeser kaki anak adam kecuali setelah ditanya beberapa perkara, salahsatunya untuk apa masa mudanya digunakan.

Dan sesungguhnya, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf: 179)

 Jazzakallah Khairan Katsir
Semoga Bermanfaat

Muchlis Fatahillah (24 Februari 2020)



Posting Komentar

 
Top