Hati
Oleh : Muchlis fatahillah
Banyak yang menyebutkan
bawasannya hati adalah tempat bermuara seluruh anggota tubuh, jika hati baik
maka baiklah seluruh amalannya dan begitu pula sebaliknya, jika hati
bermasalah, apapun itu. Pasti akan ada timbul hal-hal negatif lain didalam
anggota tubuh. Maka berbagai persoalan yang kerap ramai belakangan ini ialah
persoalan hati. Seperti tak ada habisnya jika ini dibicarakan dan tak ada
ujungnya bila diumbar. Padahal ketika
kita faham betul hakekat hati dan hakekat si pemilik hati maka jutaan lagu
kiasan yang sering kita dengar, dan syair patah yang kerap di suarakan, takkan
sespesifik itu. Bagai tak ada solusi dan dan terkesan begitu meratap akan
realnya keadaan. Apakah bangsa yang besar, pemuda yang diharap bisa meneruskan
estafet perjuangan tokoh-tokoh hebat terdahulu, harus dihentikan dengan
masalah-masalah umum yang terlalu dibesar-besarkan? Apakah ini sebuah revolusi
mental yang selama ini menjadi andalan ternyata hanya sebuah bualan? Sadar
diri, sadar posisi itulah yang seharusnya menjadi pedoman derap langkah pemuda.
Sudah menjadi keharusan untuk sadar bahwa
amanah besar telah diwariskan pada diri seorang pemuda. Akan berjalan dengan
baik dan menghasilkan yang baik-baik apabila kualitas penggeraknya juga jauh
lebih baik. Tak bisa kendaraan yang berbody ramping, berwarna terang mengilap
bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya mesin penggerak. Tak bisa pohon tumbuh,
berbunga dan berbuah tanpa adanya akar yang menyerap makanan dan daun yang
melakukan proses fotosintesis. Begitulah kiranya peran pemuda terhadap Bangsa
dan juga Agama. Harus sadar dan harus
bisa memposisikan sebagai akar,daun ataupun angin segar yang memberi
kehidupan. Apakah hal tersebut sudah berhasil kita tuangkan menjadi amal.?
Kembali lagi kita ingat bawasannya muaranya adalah pada hati.
Memang
melakukan hal baru itu tidak mudah, banyak hal melintang yang jelas menjadi
halangan, tangis dan derita, yang menuntut untuk pasrah saja. namun bukan
berarti kita tidak bisa bukan? Banyak hal-hal yang mampu kita lakukan,
disamping meratapi sesuatu yang telah lalu, menangisi sesuatu yang telah pergi
dan menyesali sesuatu yang tak mampu kita miliki. Apakah semua bisa kembali.?
Jawabannya akan kita peroleh dengan apa yang kita lakukan untuk masa
depan. Kembali bangkit, dan rubah arak gerak pemikiran kita.
Yogyakarta,
12 Februari 2020
Muchlis Fatahilah

gimana?
BalasHapus