Hell Yeah Pointer 7

0


“Pemuda Islam Harus Belajar dari Anak Sulung”

Oleh : Muchlis Fatahilah

 

            Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh Bangsa memang tiada habisnya. Mulai dari permasalahan Sosial, Politik, Ekonomi, Budaya terlebih Agama seakan menjadi camilan sebagai teman minum kopi dipagi hari. Bahkan, disadari atau tidak, berita yang menyatakan bahwa Negeri ini sedang tidak baik-baik saja, dengan mudahnya muncul dan menjadi kekhawatiran baru. Mulai dari kasus pungli yang dilakukan oknum untuk mencukupi kebutuhan pribadi, Korupsi yang dilakukan bawahan maupun pejabat tertinggi, bahkan isu pemalsuan data positif Covid-19 untuk mendapatkan pundi-pundi. Sejatinya, memang bukan hal yang mudah untuk menyatukan berbagai fikiran dan berbagi kepentingan untuk dirangkum dan dirangkul menjadi satu visi. Akan tetapi, disinilah peranan Pemuda untuk berani menentukan sikap dan berusaha aktif terhadap segala problematika yang terjadi.

            Pemuda adalah individu yang sedang mengalami masa pertumbuhan dan mengalami perkembangan emosional. Maka dari itu, Pemuda adalah aset yang sangat berhaga untuk kemajuan sebuah bangsa dimasa yang akan datang. Sebuah bangsa tidak akan mengalami perubahan kearah yang lebih baik, apabila Pemudanya masih bersikap apatis, seakan tak mau tau dan memilih tertawa dengan dunianya sendiri, Padahal, pemikiran dan kontribusinya sangatlah dibutuhkan. Bangsa ini tetap akan menjadi bangsa yang merdeka secara konstitusi, namun tetap dijajah secara psikologi, ketika Pemudanya sudah menutup diri dari Organisasi maupun forum Diskusi.

            Sudah menjadi keharusan bagi pemuda untuk bersikap aktif dan menyadari betul bahwa tanggung jawab besar telah diamanahkan untuk selanjutnya dilaksanakan. Terlebih, Pemuda Islam yang tentunya harus lebih bisa menggaungkan nuansa positif terhadap Negeri ini. Karena, ada dua hal yang harus mereka jaga yakni hubungan dengan manusia dan hubungan dengan Allah. Pemuda Islam, harus berbeda dengan pemuda lain. Pemuda Islam, harus menjadi Generasi yang unggul dibidang apapun namun tetap mengindahkan aturan dan batasan-batasan dalam agamanya. Maka, itulah mengapa Pemuda Islam adalah Anak Sulung. Dua hal yang seakan jauh berbeda, namun memiliki hubungan yang sangat erat.

            Pertama, Tanggung Jawab. Anak Sulung biasanya memiliki sikap tanggung jawab yang lebih. Ia akan berusaha menyelesaikan sesuatu yang telah ia mulai, bahkan targetnya adalah kata sempurna. Disamping itu, sikap tanggung jawab ini bukan hanya tentang dirinya saja, akan tetapi tanggung jawab terhadap adiknya, Ibunya dan pada seluruh anggota keluarganya. Terlebih, apabila ia seorang anak laki-laki. Pasti ia akan merasa bahwa dialah yang menjadi wakil dari kepala keluarga, dan mungkin menjadi pengganti sosok seorang ayah. Pemuda Islam pun harus memiliki jiwa semacam itu. Ia bertanggung jawab atas hidupnya, keluarganya, dan masyarakat sekitar. Ia akan tergerak untuk melakukan pembenahan apabila ada kesalahan dan ia akan menegur apabila terdapat hal yang kurang pantas. Namun, ia tidak menutup diri dari nasehat apabila memiliki kesalahan. Ini adalah bagian dari tanggung jawab terhadap apa yang ia ucapkan dan apa yang ia lakukan. Pemuda Islam yang memiliki tanggung jawab, tidak akan melakukan hal dengan ceroboh dan mengedepankan ego. Ia akan memikirkan dengan matang apa konsekuensi yang akan ia peroleh jika ia melakukan sesuatu atau meninggalkan suatu hal.

            Kedua, Mandiri. Anak sulung identik dengan sikap mandiri, ia terbiasa melakukan apapun sendiri, berfikir sendiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi, ketika adiknya lahir. Disadari atau tidak, fokus orangtuanya akan sedikit beralih kepada anak kedua. Anak sulung biasanya agak tertutup, namun semua ini dilakukan agar seluruh anggota keluarganya tidak ikut merasakan beban yang sedang ia alami. Mungkin ekonominya tidak baik, nilai studinya kurang memuaskan, atau pekerjaannya berantakan. Akan tetapi, hal ini justru memicunya untuk terus berfikir bagaimana jalan keluar. Keadaan seperti inilah yang menempa dirinya untuk memiliki sifat mandiri dan dewasa. Pemuda Islam perlu mencontoh ketegaran dan keteguhan hati seorang anak sulung. Sebagai pemuda Islam yang dituntut untuk melakukan perubahan, maka tidak bisa apabila ia selalu menggantungkan seseorang atau kelompok tertentu untuk menyukseskan misinya. Walaupun ia adalah makhluk sosial yang tetap membutuhkan bantuan orang lain, namun orang lain bukanlah penentu bagaimana ia bersikap. Ia memiliki prinsip yang jelas dan target yang terarah.

            Ketiga, Peduli. Jika ditanya tentang kepedulian, maka anak sulung akan memiliki sikap peduli yang lebih dibanding adik-adiknya.  Sebagai anak tertua dan dituakan, maka sudah tentu ia sangat peka terhadap apapun yang terjadi, khususnya dilingkup keluarga. Mungkin ibunya sedang sakit dan perlu obat, ayahnya yang belum faham internet dan gadget, sampai hal terkecil seperti membantu adiknya mengerjakan PR atau sekedar mengingatkan bahwa sebelum makan harus cuci tangan, berdoa, dan makan menggunakan  tangan kanan. Sikap peduli anak sulung inilah yang harus menjadi acaun Pemuda Islam. Pemuda Islam seharusnya lebih peduli terhadap berbagai hal. Apalagi, ruang lingkup Pemuda Islam bukan hanya sebatas dikeluarga, namun jauh luas lagi. Pemuda Islam akan peduli terhadap masalah kemiskinan diseluruh penjuru Negeri, sulitnya pekerjaan disaat pandemi atau masalah Agama yang semakin hari penuh dengan diskriminasi. Ia akan terus berusaha memutar otak dan mencari solusi, bukan tutup mata, pergi kemudian lari. Apalagi mengatakan, bahwa itu adalah tugas pejabat tinggi. Pemuda Islam akan terus mencari tempat dimana ia dan pemikirannya dibutuhkan.

            Sikap tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian Pemuda Islam adalah sebuah jawaban dari peliknya masalah di Negeri ini. Kesadaran bahwa Pemuda Islam sangatlah menentukan bagaimana masa depan Bangsa dan Agama dimasa yang akan datang, akan menjadi cahaya baru untuk menguatkan tatanan maupun sistematika yang masih perlu pembenahan. Solidaritas dan sinergisitas dari berbagai lini, baik vertikal maupun horizontal akan menjadi kekuatan baru untuk mewujudkan karakter bangsa yang berintegritas dan berwawasan luas.


Posting Komentar

 
Top