“Pemuda Islam Harus Belajar dari Anak Sulung”
Oleh : Muchlis Fatahilah
Berbagai
permasalahan yang dihadapi oleh Bangsa memang tiada habisnya. Mulai dari
permasalahan Sosial, Politik, Ekonomi, Budaya terlebih Agama seakan menjadi
camilan sebagai teman minum kopi dipagi hari. Bahkan, disadari atau tidak,
berita yang menyatakan bahwa Negeri ini sedang tidak baik-baik saja, dengan
mudahnya muncul dan menjadi kekhawatiran baru. Mulai dari kasus pungli yang dilakukan
oknum untuk mencukupi kebutuhan pribadi, Korupsi yang dilakukan bawahan maupun
pejabat tertinggi, bahkan isu pemalsuan data positif Covid-19 untuk mendapatkan
pundi-pundi. Sejatinya, memang bukan hal yang mudah untuk menyatukan berbagai
fikiran dan berbagi kepentingan untuk dirangkum dan dirangkul menjadi satu
visi. Akan tetapi, disinilah peranan Pemuda untuk berani menentukan sikap dan
berusaha aktif terhadap segala problematika yang terjadi.
Pemuda adalah
individu yang sedang mengalami masa pertumbuhan dan mengalami perkembangan
emosional. Maka dari itu, Pemuda adalah aset yang sangat berhaga untuk kemajuan
sebuah bangsa dimasa yang akan datang. Sebuah bangsa tidak akan mengalami
perubahan kearah yang lebih baik, apabila Pemudanya masih bersikap apatis,
seakan tak mau tau dan memilih tertawa dengan dunianya sendiri, Padahal,
pemikiran dan kontribusinya sangatlah dibutuhkan. Bangsa ini tetap akan menjadi
bangsa yang merdeka secara konstitusi, namun tetap dijajah secara psikologi,
ketika Pemudanya sudah menutup diri dari Organisasi maupun forum Diskusi.
Sudah menjadi
keharusan bagi pemuda untuk bersikap aktif dan menyadari betul bahwa tanggung
jawab besar telah diamanahkan untuk selanjutnya dilaksanakan. Terlebih, Pemuda
Islam yang tentunya harus lebih bisa menggaungkan nuansa positif terhadap
Negeri ini. Karena, ada dua hal yang harus mereka jaga yakni hubungan dengan
manusia dan hubungan dengan Allah. Pemuda Islam, harus berbeda dengan pemuda
lain. Pemuda Islam, harus menjadi Generasi yang unggul dibidang apapun namun
tetap mengindahkan aturan dan batasan-batasan dalam agamanya. Maka, itulah
mengapa Pemuda Islam adalah Anak Sulung. Dua hal yang seakan jauh berbeda,
namun memiliki hubungan yang sangat erat.
Pertama, Tanggung
Jawab. Anak Sulung biasanya memiliki sikap tanggung jawab yang lebih. Ia akan
berusaha menyelesaikan sesuatu yang telah ia mulai, bahkan targetnya adalah
kata sempurna. Disamping itu, sikap tanggung jawab ini bukan hanya tentang
dirinya saja, akan tetapi tanggung jawab terhadap adiknya, Ibunya dan pada
seluruh anggota keluarganya. Terlebih, apabila ia seorang anak laki-laki. Pasti
ia akan merasa bahwa dialah yang menjadi wakil dari kepala keluarga, dan
mungkin menjadi pengganti sosok seorang ayah. Pemuda Islam pun harus memiliki
jiwa semacam itu. Ia bertanggung jawab atas hidupnya, keluarganya, dan
masyarakat sekitar. Ia akan tergerak untuk melakukan pembenahan apabila ada
kesalahan dan ia akan menegur apabila terdapat hal yang kurang pantas. Namun,
ia tidak menutup diri dari nasehat apabila memiliki kesalahan. Ini adalah
bagian dari tanggung jawab terhadap apa yang ia ucapkan dan apa yang ia
lakukan. Pemuda Islam yang memiliki tanggung jawab, tidak akan melakukan hal
dengan ceroboh dan mengedepankan ego. Ia akan memikirkan dengan matang apa
konsekuensi yang akan ia peroleh jika ia melakukan sesuatu atau meninggalkan
suatu hal.
Kedua, Mandiri.
Anak sulung identik dengan sikap mandiri, ia terbiasa melakukan apapun sendiri,
berfikir sendiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi, ketika adiknya
lahir. Disadari atau tidak, fokus orangtuanya akan sedikit beralih kepada anak
kedua. Anak sulung biasanya agak tertutup, namun semua ini dilakukan agar
seluruh anggota keluarganya tidak ikut merasakan beban yang sedang ia alami.
Mungkin ekonominya tidak baik, nilai studinya kurang memuaskan, atau
pekerjaannya berantakan. Akan tetapi, hal ini justru memicunya untuk terus
berfikir bagaimana jalan keluar. Keadaan seperti inilah yang menempa dirinya
untuk memiliki sifat mandiri dan dewasa. Pemuda Islam perlu mencontoh ketegaran
dan keteguhan hati seorang anak sulung. Sebagai pemuda Islam yang dituntut
untuk melakukan perubahan, maka tidak bisa apabila ia selalu menggantungkan seseorang
atau kelompok tertentu untuk menyukseskan misinya. Walaupun ia adalah makhluk
sosial yang tetap membutuhkan bantuan orang lain, namun orang lain bukanlah
penentu bagaimana ia bersikap. Ia memiliki prinsip yang jelas dan target yang
terarah.
Ketiga, Peduli. Jika
ditanya tentang kepedulian, maka anak sulung akan memiliki sikap peduli yang
lebih dibanding adik-adiknya. Sebagai
anak tertua dan dituakan, maka sudah tentu ia sangat peka terhadap apapun yang
terjadi, khususnya dilingkup keluarga. Mungkin ibunya sedang sakit dan perlu
obat, ayahnya yang belum faham internet dan gadget, sampai hal terkecil
seperti membantu adiknya mengerjakan PR atau sekedar mengingatkan bahwa sebelum
makan harus cuci tangan, berdoa, dan makan menggunakan tangan kanan. Sikap peduli anak sulung inilah
yang harus menjadi acaun Pemuda Islam. Pemuda Islam seharusnya lebih peduli
terhadap berbagai hal. Apalagi, ruang lingkup Pemuda Islam bukan hanya sebatas
dikeluarga, namun jauh luas lagi. Pemuda Islam akan peduli terhadap masalah
kemiskinan diseluruh penjuru Negeri, sulitnya pekerjaan disaat pandemi atau
masalah Agama yang semakin hari penuh dengan diskriminasi. Ia akan terus
berusaha memutar otak dan mencari solusi, bukan tutup mata, pergi kemudian
lari. Apalagi mengatakan, bahwa itu adalah tugas pejabat tinggi. Pemuda Islam akan
terus mencari tempat dimana ia dan pemikirannya dibutuhkan.
Sikap tanggung
jawab, kemandirian, dan kepedulian Pemuda Islam adalah sebuah jawaban dari
peliknya masalah di Negeri ini. Kesadaran bahwa Pemuda Islam sangatlah
menentukan bagaimana masa depan Bangsa dan Agama dimasa yang akan datang, akan
menjadi cahaya baru untuk menguatkan tatanan maupun sistematika yang masih
perlu pembenahan. Solidaritas dan sinergisitas dari berbagai lini, baik
vertikal maupun horizontal akan menjadi kekuatan baru untuk mewujudkan karakter
bangsa yang berintegritas dan berwawasan luas.

Posting Komentar