Berbagai Prespektif Masyarakat tentang : Pesantren
Oleh : Muchlis Fatahilah
Tidak bisa
dipungkiri bawasannya Pesantren mempunyai peran yang sangat penting didunia
Pendidikan. Terlebih diera modern ini, banyak orangtua yang khawatir terhadap
pergaulan anaknya diluar. Setidaknya, ketika seorang anak masuk ke Pesantren,
walapun ia tak terlalu pintar mengaji dan tak banyak menghafal Al-Qur'an, akan
tetapi ia memiliki perilaku yang baik dan tutur kata yang lembut. Meskipun, tak
sedikit pula orangtua yang tidak rela anaknya masuk ke pesantren dengan
berbagai alasan seperti takut kalau makanan anaknya tidak terjamin, tidak bisa
berkomunikasi dengan bebas, dan belum
tega apabila anaknya melakukan berbagai
pekerjaan sendiri.
Hal yang tak
kalah berpengaruh untuk menentukan seseorang mau atau tidak masuk ke pesantren
adalah dari rumor yang telah tumbuh dan berkembang dimasyarakat. Entah yang
berkata itu benar-benar tau, atau mungkin "sok tau". Yang
jelas, berbagai pendapat itu sangat mampu dijadikan penentu mantapnya niat
mulia ini, atau makin takut dan ragunya seseorang belajar dipenjara suci. Berikut
beberapa prespektif negatif masyarakat tentang pesantren adalah:
1.
Pesantren adalah tempat
“Buangan”
Mungkin bagi seseorang yang pernah mempunyai niat
untuk masuk ke pesantren dan menceritakannya ke orang lain, pasti tidak asing
lagi dengan prespektif yang satu ini. Buangan yang dimaksud adalah pesantren merupakan
tempat orang-orang yang sebelumnya memiliki kelakuan buruk, anak yang
berkali-kali tidak naik kelas, korban broken home, atau bahkan anak
jalanan. Intinya, mereka yang memiliki masalalu kurang baik. Prespektif ini
biasanya menjadikan orangtua khawatir terhadap anaknya. Mereka takut jika
anaknya terpengaruh hal-hal buruk tersebut. Di pesantren bukannya berubah jadi
baik, malah tambah buruk.
2.
Pesantren tempatnya orang
yang kurang mampu.
Sebagian orang memiliki pandangan bahwa pesantren
hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi. Banyak
anak yang merasa gengsi, jika harus belajar dipesantren. Orang tua pun takut dibilang
lepas tanggungjawab, dan tidak mau membiayai Pendidikan anak. Padahal, kita
semua tau bahwa sudah banyak juga pesantren Modern yang menyediakan berbagai
fasilitas menarik dan biaya Pendidikan yang tidak sedikit. Akan tetapi biar
bagaimanapun pandangan itu telah berkembang dimasyarakat luas.
3.
Pesantren itu kotor, dan
santrinya kurang menjaga kebersihan.
Mungkin mereka menganggap karena dipesantren itu banyak
orang yang mempunyai sifat, kepribadian dan kebiasaan masing-masing sehingga
membuat tepat ini kotor, kurang lebih semacam pasar. Pandangan semacam ini
jelas akan membuat seseorang mengurungkan niatnya masuk ke pesantren. Karena
pada dasarnya, semua orang itu suka terhadap kebersihan. Sebenarnya, semua itu
kembali ke pribadi masing-masing dan bagaimana peraturan dipesantren itu
sendiri terhadap penekanan kepada santri mengenai pola hidup bersih dan sehat.
Selain
hal-hal negatif diatas, ternyata banyak juga yang memiliki pandangan positif
terhadap pesanten. Hal ini kemungkinan akan memantapkan seseorang untuk memilih
pesantren sebagai tempat belajarnya.
1.
Pesantren, tempat
mengembangkan diri
Selain belajar ilmu agama, dipesantren banyak kegiatan
ekstrakulikuler yang mendukung minat dan bakat satrinya. Hal ini jelas akan
menambah banyak pengetahuan santri, disamping Pendidikan akademik. Apalagi
ketika kita ingat bahwa santri dipesantren memiliki latar belakang, minat dan
bakat yang berbeda beda. Jika hal ini dimanfaatkan dengan baik, maka banyak hal
yang bisa dipelajari, termasuk belajar dari teman sebaya.
2.
Santri itu pinter dan
bermental baja
Target harian, mingguan, dan bulanan yang diberikan
kepada santri lah yang sebenarnya memicu kecerdasan ini. Apalagi, ketika santri
malas-malasan pasti akan ada sanksi yang bersifat mendidik dari ustadz/ah. Kecerdasan
anak pesantren memang sudah menjadi hal yang wajar, justru ketika seorang anak
masuk ke pesantren dan tidak berprestasi sama sekali, akan muncul sebuah ejekan
lagi “katanya santri, tapi kok…” Padahal santri atau bukan, mereka
sama-sama manusia dan memiliki tingkat IQ masing-masing.
3.
Seorang santri akan lebih
dihargai dikalangan masyarakat
Mungkin ini adalah bukti dari janji Allah bawasannya ia
akan mengangkat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Masyarakat
sudah memiliki anggapan bahwa ketika seseorang mondok atau bahkan telah lulus dari
pesantren, pasti memiliki segudang pengetahuan dan pengalaman yang luas
sehingga akan lebih dihargai dibanding anak lain.
Itulah
beberapa prespektif masyarakat mengenai pesantren. Sejatinya semua kembali
kepada pribadi masing-masing. Jika memang berniat kuat untuk mengembangkan diri
dengan memilih pesantren sebagai kendaraan, maka penulis yakin; apapun konsekuensi
dan pandangan masyarakat mengenai pesantren tak akan membuat seseorang
mengurungkan niat mulia ini. Semoga tulisan ini bermanfaat. Karena dengan kita
tau berbagai prespektif masyarakat tentang pesantren, yang negatif bisa kita
jadikan bahan persiapan mental dan yang positif bisa kita jadikan motivasi dan
semangat untuk masuk ke dunia pesantren.

Posting Komentar