Hell Yeah Pointer 7

0


Berbagai Prespektif Masyarakat tentang : Pesantren

Oleh : Muchlis Fatahilah

Tidak bisa dipungkiri bawasannya Pesantren mempunyai peran yang sangat penting didunia Pendidikan. Terlebih diera modern ini, banyak orangtua yang khawatir terhadap pergaulan anaknya diluar. Setidaknya, ketika seorang anak masuk ke Pesantren, walapun ia tak terlalu pintar mengaji dan tak banyak menghafal Al-Qur'an, akan tetapi ia memiliki perilaku yang baik dan tutur kata yang lembut. Meskipun, tak sedikit pula orangtua yang tidak rela anaknya masuk ke pesantren dengan berbagai alasan seperti takut kalau makanan anaknya tidak terjamin, tidak bisa berkomunikasi dengan bebas,  dan belum tega apabila  anaknya melakukan berbagai pekerjaan sendiri.

Hal yang tak kalah berpengaruh untuk menentukan seseorang mau atau tidak masuk ke pesantren adalah dari rumor yang telah tumbuh dan berkembang dimasyarakat. Entah yang berkata itu benar-benar tau, atau mungkin "sok tau". Yang jelas, berbagai pendapat itu sangat mampu dijadikan penentu mantapnya niat mulia ini, atau makin takut dan ragunya seseorang belajar dipenjara suci.  Berikut  beberapa prespektif negatif masyarakat tentang pesantren adalah:

1.       Pesantren adalah tempat “Buangan”

Mungkin bagi seseorang yang pernah mempunyai niat untuk masuk ke pesantren dan menceritakannya ke orang lain, pasti tidak asing lagi dengan prespektif yang satu ini. Buangan yang dimaksud adalah pesantren merupakan tempat orang-orang yang sebelumnya memiliki kelakuan buruk, anak yang berkali-kali tidak naik kelas, korban broken home, atau bahkan anak jalanan. Intinya, mereka yang memiliki masalalu kurang baik. Prespektif ini biasanya menjadikan orangtua khawatir terhadap anaknya. Mereka takut jika anaknya terpengaruh hal-hal buruk tersebut. Di pesantren bukannya berubah jadi baik, malah tambah buruk.

2.       Pesantren tempatnya orang yang kurang mampu.

Sebagian orang memiliki pandangan bahwa pesantren hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang kurang mampu secara ekonomi. Banyak anak yang merasa gengsi, jika harus belajar dipesantren. Orang tua pun takut dibilang lepas tanggungjawab, dan tidak mau membiayai Pendidikan anak. Padahal, kita semua tau bahwa sudah banyak juga pesantren Modern yang menyediakan berbagai fasilitas menarik dan biaya Pendidikan yang tidak sedikit. Akan tetapi biar bagaimanapun pandangan itu telah berkembang dimasyarakat luas.

3.       Pesantren itu kotor, dan santrinya kurang menjaga kebersihan.

Mungkin mereka menganggap karena dipesantren itu banyak orang yang mempunyai sifat, kepribadian dan kebiasaan masing-masing sehingga membuat tepat ini kotor, kurang lebih semacam pasar. Pandangan semacam ini jelas akan membuat seseorang mengurungkan niatnya masuk ke pesantren. Karena pada dasarnya, semua orang itu suka terhadap kebersihan. Sebenarnya, semua itu kembali ke pribadi masing-masing dan bagaimana peraturan dipesantren itu sendiri terhadap penekanan kepada santri mengenai pola hidup bersih dan sehat.

                Selain hal-hal negatif diatas, ternyata banyak juga yang memiliki pandangan positif terhadap pesanten. Hal ini kemungkinan akan memantapkan seseorang untuk memilih pesantren sebagai tempat belajarnya.

1.       Pesantren, tempat mengembangkan diri

Selain belajar ilmu agama, dipesantren banyak kegiatan ekstrakulikuler yang mendukung minat dan bakat satrinya. Hal ini jelas akan menambah banyak pengetahuan santri, disamping Pendidikan akademik. Apalagi ketika kita ingat bahwa santri dipesantren memiliki latar belakang, minat dan bakat yang berbeda beda. Jika hal ini dimanfaatkan dengan baik, maka banyak hal yang bisa dipelajari, termasuk belajar dari teman sebaya.

2.    Santri itu pinter dan bermental baja

Target harian, mingguan, dan bulanan yang diberikan kepada santri lah yang sebenarnya memicu kecerdasan ini. Apalagi, ketika santri malas-malasan pasti akan ada sanksi yang bersifat mendidik dari ustadz/ah. Kecerdasan anak pesantren memang sudah menjadi hal yang wajar, justru ketika seorang anak masuk ke pesantren dan tidak berprestasi sama sekali, akan muncul sebuah ejekan lagi “katanya santri, tapi kok…” Padahal santri atau bukan, mereka sama-sama manusia dan memiliki tingkat IQ masing-masing.

3.    Seorang santri akan lebih dihargai dikalangan masyarakat

Mungkin ini adalah bukti dari janji Allah bawasannya ia akan mengangkat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Masyarakat sudah memiliki anggapan bahwa ketika seseorang mondok atau bahkan telah lulus dari pesantren, pasti memiliki segudang pengetahuan dan pengalaman yang luas sehingga akan lebih dihargai dibanding anak lain.

                Itulah beberapa prespektif masyarakat mengenai pesantren. Sejatinya semua kembali kepada pribadi masing-masing. Jika memang berniat kuat untuk mengembangkan diri dengan memilih pesantren sebagai kendaraan, maka penulis yakin; apapun konsekuensi dan pandangan masyarakat mengenai pesantren tak akan membuat seseorang mengurungkan niat mulia ini. Semoga tulisan ini bermanfaat. Karena dengan kita tau berbagai prespektif masyarakat tentang pesantren, yang negatif bisa kita jadikan bahan persiapan mental dan yang positif bisa kita jadikan motivasi dan semangat untuk masuk ke dunia pesantren.

Posting Komentar

 
Top